Keutamaan Adzan dan Muadzin Berdasarkan Hadits Rasulullah SAW

Keutamaan Adzan dan Muadzin Berdasarkan Hadits Rasulullah SAW

Keutamaan Adzan dan Muadzin Berdasarkan Hadits Rasulullah SAW
Umat Islam di seluruh dunia, pasti mengenal shalat yang merupakan ibadah wajib yang dilaksanakan lima waktu dalam sehari dan ibadah sunnah yang dilaksanakan pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Dalam shalat lima waktu biasanya didahului oleh suara adzan yang merupakan penanda waktu shalat.

Kata adzan diambil dari kosakata bahasa Arab, yaitu اذان yang artinya ( اعلان ) pengumuman dan ( مطلق الاعلام ) yang artinya seruan yang sempurna. Sedangkan menurut Syara’ ialah seruan yang menandakan sampainya waktu shalat dengan lafadz yang telah ditentukan sebelumnya secara khusus. Sesuai dengan hadits berikut:


إِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ، حَتَّى لاَ يَسْمَعَ التَّأْذِيْنَ، فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثَوَّبَ بِالصَّلاَةِ أَدْبَر


Artinya: "Apabila diserukan adzan untuk shalat, syaitan pergi berlalu dalam keadaan ia kentut hingga tidak mendengar adzan. Bila muadzin selesai mengumandangkan adzan, ia datang hingga ketika diserukan iqamat ia berlalu lagi …" - Hadist Riwayat Bukhari (No.608) dan Muslim (No.1267)


Keutamaan Adzan dan Muadzin


Adzan walaupun merupakan ibadah sunnah yang dilaksanakan sebelum shalat wajib, namun memiliki keutamaan yang sangat besar. Nah berikut ini beberapa keutamaan adzan dan muadzin berdasarkan hadits-hadits Rasulullah saw. sebagai berikut:


Setan Akan Lari Ketika Mendengar Suara Adzan


Setan merupakan salah satu makhluk Allah yang kasat mata, tidak dapat dipandang manusia namun memiliki tugas yang tidak baik bagi manusia. Setan selama hidupnya hanya menggoda manusia untuk tersesat atau jauh dari tunutunan agama. Namun ketika suara adzan dikumandangkan, setan akan lari terbirit-birit sambil kentut sehingga dia tidak mendengar suara adzan itu. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadist sebagai berikut.


حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لَا يَدْرِي كَمْ صَلَّى


Artinya: Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka setan akan lari sambil mengeluarkan kentut hingga ia tidak mendengar suara adzan. Apabila panggilan adzan telah selesai maka setan akan kembali. Dan bila iqamat dikumandangkan setan kembali berlari dan jika iqamat telah selesai dikumandangkan dia kembali lagi, lalu menyelinap masuk kepada hati seseorang seraya berkata, 'Ingatlah ini dan itu'. Dan terus saja dia melakukan godaan ini hingga seseorang tidak menyadari berapa rakaat yang sudah dia laksanakan dalam shalatnya."


Adzan Memiliki Banyak Kebaikan di Dalamnya


Kalimat-kalimat yang ada di dalam adzan memiliki begitu banyak kebaikan, hingga Rasulullah saw menjelaskan bahwa jika saja manusia mengetahui kebaikan yang ada di dalam adzan maka, mereka akan berlomba-lomba untuk mengikuti panggilan adzan dan berada di dalam shaf yang paling depan dalam shalat. Ini karena adzan dan shaf yang paling depan dalam shalat memiliki keutamaan yang sangat banyak. Namun semua itu dirahasiakan kepada manusia sebagai ujian bagi mereka, dan hanya orang-orang pilihan Allah sajalah yang mengetahui rahasia keutamaan di balik adzan, hal ini sebagaimana hadits Rasulullah saw. sebagai berikut. 


حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ سُمَيٍّ مَوْلَى أَبِي بَكْرٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لَاسْتَبَقُوا إِلَيْهِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا


Artinya: Telah menceritakan kepada kami Isma'il berkata, telah menceritakan kepadaku Malik dari Sumayya, maula Abu Bakar dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seandainya manusia mengetahui (kebaikan) apa yang terdapat pada panggilan shalat dan shaf pertama lalu mereka tidak dapat meraihnya melainkan dengan mengundi tentulah mereka akan mengundinya. Seandainya mereka mengetahui apa yang terdapat pada bersegera melaksanakan shalat tentulah mereka akan berlomba untuk melakukannya dan seandainya mereka mengetahui apa yang terdapat pada 'Atmah (shalat 'Isya') dan Shubuh tentulah mereka akan mendatanginya walaupun harus dengan merangkak".


Muadzin, Orang Yang Panjang Lehernya di Akhirat


حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ يَحْيَى عَنْ عَمِّهِ قَالَ كُنْتُ عِنْدَ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ فَجَاءَهُ الْمُؤَذِّنُ يَدْعُوهُ إِلَى الصَّلَاةِ فَقَالَ مُعَاوِيَةُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْمُؤَذِّنُونَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ و حَدَّثَنِيهِ إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ أَخْبَرَنَا أَبُو عَامِرٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ يَحْيَى عَنْ عِيسَى بْنِ طَلْحَةَ قَالَ سَمِعْتُ مُعَاوِيَةَ يَقُولُا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِهِ


Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami Abdah dari Thalhah bin Yahya dari pamannya dia berkata, "Saya berada di samping Mu'awiyah bin Abi Sufyan, lalu datanglah muadzdzin yang menyerukan shalat, maka Mu'awiyah berkata, 'Saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Para mu'adzin adalah orang yang paling panjang lehernya (ungkapan bahwa mereka mulia di akhirat pent) pada hari kiamat'." Dan telah menceritakan kepadaku tentangnya Ishaq bin Manshur telah mengabarkan kepada kami Abu Amir telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Thalhah bin Yahya dari Isa bin Thalhah dia berkata, saya mendengar Mu'awiyah berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda dengan semisalnya


Menurut Imam Suyuthi dalam kitab Syarah Muslim, hadis di atas maksudnya adalah para muadzin akan menjadi seorang pemimpin atau orang mulia. Ini mengikuti tradisi orang Arab yang menjuluki orang bangsawan dengan sebutan leher panjang. Ada juga yang mengatakan bahwa para muadzin akan memiliki banyak pengikut.


Apapun Akan Menjadi Saksi Bagi Mudzin Ketika di Akhirat


حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَهُ إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ أَوْ بَادِيَتِكَ فَأَذَّنْتَ لِلصَّلَاةِ فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ فَإِنَّهُ لَا يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلَا إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ


Telah menceritakan kepada kami Ismail telah menceritakan kepadaku Malik dari 'Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Sha'sha'ah dari ayahnya bahwa ia mengabarkan kepadanya, bahwa Abu Sa'id Al Khudzri radliyallahu'anhu berkata kepadanya, "Aku lihat kamu hobi menggembala kambing dan alam pedusunan, jika engkau berada di tengah-tengah kambing gembalaanmu, lalu engkau mengumandangkan adzan (shalat), maka keraskanlah suaramu. Sebab tidaklah jin, manusia, atau sesuatu yang mendengar suara mu`adzin kecuali mereka akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat." Abu Sa'id berkata, "Aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."


Dosa Muadzin Diampuni Pada Akhir Adzannya


Ibnu ’Umar radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


يُغْفَرُ لِلْمْؤَذِّنِ مُنْتَهَى أَذَانِهِ وَيَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلُّ رَطْبٍ وَيَابِسٍ سَمِعَهُ


"Diampuni bagi muadzin pada akhir adzannya. Dan setiap yang basah atau pun yang kering yang mendengar adzannya akan memintakan ampun untuknya." (HR. Ahmad 2: 136. Syaikh Ahmad Syakir berkata bahwa sanad hadits ini shahih)


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan para Imam dan Muadzin


Rasulullah selalu mendoakan kebaikan kepada umatnya, termasuk kepada para muadzin yang selalui menyeru kepada manusia agar melaksanakan shalat. Salah satu do'a Rasulullah kepada muadzin dan imam adalah sebagai berikut.


اللَّهُمَّ أَرْشِدِ الْأَئِمّةَ وَاغْفِرْ لِلَمْؤَذِّنِيْنَ


”Ya Allah berikan kelurusan bagi para imam dan ampunilah para muadzin.” (HR. Abu Dawud no. 517 dan At-Tirmidzi no. 207, dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 217)


Muadzin adalah Orang yang Dipercaya dalam Shalat


حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ رَجُلٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِمَامُ ضَامِنٌ وَالْمُؤَذِّنُ مُؤْتَمَنٌ اللَّهُمَّ أَرْشِدْ الْأَئِمَّةَ وَاغْفِرْ لِلْمُؤَذِّنِينَ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ عَنْ الْأَعْمَشِ قَالَ نُبِّئْتُ عَنْ أَبِي صَالِحٍ قَالَ وَلَا أُرَانِي إِلَّا قَدْ سَمِعْتُهُ مِنْهُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ


Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail telah menceritakan kepada kami Al-A'masy dari seorang lelaki dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Imam itu menjamin (bertanggung jawab terhadap shalat makmumnya), sedangkan muadzin orang yang dipercaya. Ya Allah, berilah petunjuk kepada para imam dan ampunilah para muadzin." Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Ali telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dari Al-A'masy dia berkata; Telah diberitakan kepadaku dari Abu Shalih dia berkata; Dan saya tidak beranggapan kecuali saya mendengarnya darinya dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda dengan lafazh semisal di atas.


Demikianlah postingan kali ini tentang keutamaan adzan dan Muadzin berdasarkan hadits Rasulullah saw, semoga bermanfaat.