Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Berlakulah Tawadhu Pada Orang Yang Ada di Bawah Tingkatanmu

Berlaku Tawadhu Pada Orang Yang Ada di Bawah Tingkatanmu

Tawadhu menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Tawadhu bukan berarti bahwa menghinakan diri, tetapi tawadhu adalah suatu perbuatan mulia yang dapat menghindarkan diri dari sifat sombong. Tawadhu merupakan perbuatan merendahkan hati agar terhindar dari kehinaan di depan Allah. Sehingga sifat ini dapat berlakuk kepada siapa saja.

Apabila kamu menemui seseorang yang lebih muda umurnya darimu, atau lebih rendah kedudukannya darimu, maka janganlah kamu meremehkanya. Boleh jadi orang tadi lebih sehat hatinya daripadamu, atau lebih sedikit dosanya daripadamu, atau lebih besar taqarubnya kepada Allah daripadamu.

Bahkan sekiranya kamu melihat seorang fasik dari kamu kelihatan lebih shaleh daripadanya, maka janganlah kamu berlaku sombong terhadapnya. Pujilah Allah lantaran Dia telah menyelamatkanmu dari ujian yang Dia berikan padanya, dan hendaknya kamu senantiasa ingat bahwa boleh jadi dalam amal-amal shalehnu terdapat unsur riya dan ujub yang bisa menghapuskannya, atau boleh jadi pada diri pendosa tersebut terdapat rasa penyesalan. Perasaan remuk redam dan ketakutan terhadap dosa-dosanya, yang bisa menjadi  sebab diampunkannya dosa-dosanya.

Dari Jundab ra, bahwa rasulullah saw, bersabda: Ada seorang lelaki yang berkata: "Demi Allah, Alah tidak akan mengampuni si fulan" Lantas Allah ta’ala berfirman: "Siapa gerangan yang berani bersumpah atas nama-Ku kalau Aku tidak akan mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku ampuni si fulan dan Aku hapuskan amal-amal (baik) mu.

Jadi kamu jangan bersikap sombong terhadap seseorang, bahkan sekiranya kamu melihat orang fasik, maka kamu jangan merasa lebih tinggi darinya, atau kamu mempergaulinya dengan sikap seorang yang sombong.

Allah swt, telah berfirman:

لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ

Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. (QS. Al-Hijr: 88)

Boleh jadi apa yang ditegaskan oleh ayat tentang tujuan penciptaan langit dan bumi, menimbulkan pertanyaan: mengapa kaum musyrikin dapat bergelimang dalam kenikmatan hidup, padahal mereka mendurhakai Allah? Mengapa mereka yang telah diancam oleh Allah, masih dibiarkan dan diulur dengan aneka kenikmatan? Nah, ayat ini menjawab pertanyaan yang timbul dalam benak itu.

Demikian Thahir Ibn Asyur. Dan itu pula sebabnya - tulisnya lebih jauh - ayat ini tidak menggunakan kata wa / dan sebelum kata laa tanuddanna karena jika didahului oleh dan – sebagaimana dalam QS. Thaha [20]: 131 walaa tamuddanna – maka ia sekedar sebagai larangan yang tidak mempunyai hubungan dengan ayat sebelumnya.

Dapat juga dikatakan bahwa karena apa yang telah dianugrahkan oleh Allah kepada Nabi Muhamad saw, begitu juga apa yang dianugrahkan-Nya kepada beliau sedemikian besar, maka sangat wajar jika beliau diingatkan agar janganlah sekali-kali engkau mengarahkan matamu yakni jangan memberi perhatian yang besar serta tergiur kepada apa yang dengannya kami telah senangkan untuk sementara lagi cepat berlalunya untuk golongan-golongan di antara mereka orang-orang kafir itu, karena apa yang mereka peroleh dan cara penggunaannya adalah batil dan bukan "haq", dan janganlah engkau bersedih hati terhadap mereka karena keengganan mereka beriman, atau akibat jatuhnya siksa atas mereka dan kesudahan buruk yang akan mereka alami.

Adapun terhadap sesama kaum beriman, maka jalinlah hubungan harmonis dengan mereka dan rendahkanlah sayapmu yakni bersikap rendah hatilah kepada orang-orang mukmin. Dan katakanlah kepada mereka yang durhaka itu bahkan kepada semua orang bahwa "Aku tidak akan bersedih dan marah karena orang-orang kafir menolak ajaran yang kusampaikan, karena sesungguhnya aku hanyalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada siapa pun yang durhaka atau tenggelam dalam kenikmatan duniawi dengan melupakan akhiratnya." Pesan ayat ini harus dipahami sejalan dengan firman-Nya dalam QS. Al-Qashash/: 77:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."

Kata tamuddanna terambil dari kata madda yang berarti memperpanjang atau menambah. Memang mata tidak dapat diperpanjang tetapi dia dapat diarahkan karena kata ini di sini berarti mengarahkan.

Kata azwaaj adalah bentuk jamak zauj yang berarti pasangan. Pasangan adalah satu yang menggenapakan dua hal berbeda tetapi keberpasangan menjadikannya menyatu dalam fungsi dan tujuan. Yang dimaksud adalah pasangan-pasangan kekufuran, khususnya tokoh-tokohnya. Mereka, walaupun berbeda-beda, tetapi menyatu dalam kedurhakaan kepada Allah swt. Ada juga yang memahami kata tersebut dalam arti pasangan suami istri. Memang kenikmatan akan semakin sempurna jika kehidupan duniawi dinikmati oleh sepasang pria dan wanita, tetapi sekali lagi hanya keikmatan semu bila tdak disertai oleh haq.

Kata janaah pada mulanya berarti sayap. Pengalan ayat ini mengilustrasikan sikap dan perilaku seseorang seperti halnya seekor burung yang merendahkan sayapnya pada saat ia hendak mendekat dan bercumbu kepada betinanya, atau melindungi anak-anaknya. Sayap terus dikembangkan dengan merendah dan merangkul, serta tidak beranjak meninggalkan tempat dalam keadaan demikian sampai berlalunya bahaya. Dari sini ungkapan itu dipahami dalam arti kerendahan hati, hubungan harmonis dan perlindungan serta ketabahan dan kesabaran bersama kaum beriman, khususnya pada saat-saat sulit dan krisis. Al-Quran yang dianugrahkan itu, serta sikap tidak tergiur oleh kenikmatan duniawi sebagaimana halnya orang durhaka, merupakan bekal yang sangat berharga untuk melaksanakan tuntunan Allah swt, di atas antara lain memberi pemaafan yang baik kepada kaum pendurhaka itu.

Posting Komentar untuk "Berlakulah Tawadhu Pada Orang Yang Ada di Bawah Tingkatanmu"