Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Raja-raja di Kesultanan Turki Utsmaniyah (Ottoman)

Raja-raja di Kesultanan Turki Usmani

Selama masa kesultanan Turki Usmani (1299-1942 M), sekitar 625 tahun berkuasa tidak kurang dari 40 Sultan.

Raja-raja Turki Usmani bergelar Sultan dan Khalifah sekaligus. Sultan menguasai kekuasaan duniawi dan khalifah berkuasa di bidang agama atau spiritual. Mereka mendapatkan kekuasaan secara turun-temurun, tetapi tidak harus putra pertama yang menjadi pengganti sultan terdahulu. Ada kalanya putra kedua atau putra ketiga dan menggantikan sultan.

Dalam perkembangan selanjutnya pergantian kekuasaan itu juga diserahkan kepada saudara sultan bukan kepada anaknya. Dengan sistem pergantian kekuasaan yang demikian itu sering timbul perebutan kekuasaan yang tidak jarang menjadi ajang pertempuran antara satu pangeran dengan pangeran yang lalinnya, yang mengakibatkan lemahnya kekuasaan Usmaniyah.

Dari 39 raja Turki Usmani ada beberapa raja yang berpengaruh, diantaranya:

1. Sultan Usman bin Ertoghrul (699-726 H/ 1294-1326 M)


Pada tahun 699 H. Usman melakukan perlusan kekuasaannya sampai ke Romawi Bizantium setelah ia mengalahkan Alauddin Saljuk. Usman diberi gelar sebagai Padisyah Al-Usman (Raja besar keluarga usman), gelar inilah yang dijuliki sebagi Daulah Usmaniyyah. Usman berusaha memperkuat tentara dan memajukan negrinya. kepada raja-raja kecil dibuat suatu peraturan untuk memilih salah satu dari tiga hal, yaitu:

a. Masuk Islam
b. Membayar Jizyah; atau
c. Berperang

2. Sultan Urkhan bin Utsman (726-761 H/ 1326-1359 M)


Sultan Urkhan adalah putera Utsman I. Sebelum Urkhan ditetapkan menjadi raja, ia telah banyak membantu perjuangan ayahnya. Dia telah menjadikan Brousse sebagai ibu kota kerajaannya. Pada masa pemerintahannya, dia berhsil mengalahkan dan menguasai sejumlah kota di selat Dardanil. Tentara baru yang dibentuk oleh Urkhan I diberi nama Inkisyaiah. Pasukan ini dilengkapi dengan persenjataan dan pakaian seragam. Di zaman inilah pertama kali dipergunakan senjata meriam.

3. Sultan Murad I bin Urkhan (761-791 H/ 1359-1389 M)


Pengganti sultan Urkhan adalah Sultan Murad I. Selain memantapkan keamanan di dalam negrinya, sultan juga meneruskan perjuangan dan menaklukkan bebrapa daerah ke benua Eropa. Ia menaklukkan Adrianopel, yang kemudian dijadikan sebagai ibukota kerajaan yang baru serta membentuk pasukan berkuda (Kaveleri). Perjuangannya terus dilanjutkan dengan menaklukkan Macedonia, Shopia ibukota Bulgaria, dan seluruh wilayah bagian utara Yunani.

Karena banyaknya kota-kota yang ditaklukkan oleh Murad I, pada waktu itu bangsa Eropa mulai cemas. Akhirnya raja-raja Kristen Balkan meminta bantuan Paus Urban II untuk mengusir kaum muslimin dari daratan Eropa. Maka peperangan antara pasukan Islam dan Kristen Eropa pada tahun 765 H (1362 M). Peperangan itu dimenangkan oleh pasukan Murad I, sehingga Balkan jatuh ke tangan umat Islam. Selanjutnya pasukan Murad I merayap terus menguasai Eropa Timur seperti Somakov, Sopia Monatsir, dan Saloniki.

4. Sultan Bayazid I bin Murad ( 791-805 H/ 1389-1403 M)


Bayazid adalah putra Murad I. Ia meneruskan perjuangan ayahnya dengan memperluas wilayahnya seperti Eiden, Sharukan dan Mutasya di Asia Kecil dan negeri bekas kekuasaan Bani Saluki. Bayazid sangat besar pengaruhnya, sehingga mencemaskan Paus. Kemudian Paus Bonifacius mengadakan penyerangan terhadap pasukan Bayazid, dan perangan ini yang merupakan penyebab terjadinya Perang Salib. Tentara Salib ketika itu terdiri dari berbagai bangsa, namun dapat dilumpuhkan oleh pasukan Bayazid. Namun pada peperangan berikutnya ketika melawan Timur Lenk di Ankara, Bayazid dapat ditaklukkan, sehingga mengalami kekalahan dan ketika itu Bayazid bersama putranya Musa tertawan dan wafat dalam tahanan Timur Lenk pada tahun 1403 M.

5. Sultan Muhammad I bin Bayazid (816-824 H/ 1403-1421 M)


Kekalahan Bayazid membawa akibat buruk terhadap penguasa-penguasa Islam yang semula berada di bawah kekuasaan Turki Usmani, sebab satu sama lain berebutan, seperti wilayah Serbia, dan Bulgeria melepaskan diri dari Turki Usmani. Suasana buruk ini baru berakhir setelah Sultan Muhammad I putra Bayazid dapat mengatasinya. Sultan Muhammad I berusaha keras menyatukan kembali negaranya yang telah bercerai berai itu kepada keadaan semula.

Berkat usahanya yang tidak mengenal lelah, Sultan Muhammad I dapat mengangkat citra Turki Usmani sehingga dapat bangkit kembali, yaitu dengan menyusun pemerintahan, memperkuat tentara dan memperbaiki kehidupan mayarakat. Akan tetapi saat rakyat sedang mengharapkan kepemimpinannya yang penuh kebijaksanaan itu, pada tahun 824 H (1412 M) Sultan Muhammad I meninggal.

6. Sultan Murad II bin Muhammad ( 824-855 H/ 1421-1451 M)


Sepeninggalannya Sultan Muhammad I, pemerintahan diambil alih oleh Sulatan Murad II. Cita-citanya adalah melanjutkan usaha Muhammad I. yaitu untuk menguasai kembali daerah-daerah yang terlepas dari kerajaan Turki Usmani sebelumnya. Daerah pertama yang dikuasainya adalah Asia Kecil, Salonika Albania, Falokh, dan Hongaria.

Setelah bertambahnya beberapa daerah yang dapat dikuasai tentara Islam, Paus Egenius VI kembali menyerukan Perang Salib. Tentara Sultan Murad II menderita kekalahan dalam perang salib itu. Akan tetapi dengan bantuan putranya yang bernama Muhammad, perjuangan Murad II dapat dilanjutkan kenbali yang pada akhirnya Murad II kembali berjaya dan keadaan menjadi normal kembali sampai akhir kekuasaan diserahkan kepada putranya bernama Sultan Muhammad Al-Fatih.

7. Sultan Muhammad Al-Fatih (855-886 H/ 1451-1481 M)


Setelah Sultan Murad II meninggal dunia, pemerintahan kerajaan Turki Usmani dipimpin oleh putranya Muhammad II atau Muhammad Al-Fatih. Ia diberi gelar Al-fatih karena dapat menaklukkan Konstantinopel. Muhammad Al-Fatih berusaha membangkitkan kembali sejarah umat Islam sampai dapat menaklukkan Konstantinopel sebagai ibukota Bizantium. Konstantinopel adalah kota yang sangat penting dan belum pernah dikuasai raja-raja Islam sebelumnya.

Muhammad Al-Fatih dianggap sebagi pembuka pintu bagi perubahan dan perkembangan Islam yang dipimpin Muhammad. Tiga alasan Muhammad menaklukkan Konstantinopel, yaitu:

a) Dorongan iman kepada Allah SWT, dan semangat perjuangan berdasarkan hadits Nabi Muhammad saw untuk menyebarkan ajaran Islam.

b) Kota Konstantinopel sebagai pusat kemegahan bangsa Romawi.

c) Negerinya sangat indah dan letaknya strategis untuk dijadikan pusat kerajaan.

Usaha mula-mula umat Islam untuk menguasai kota Konstantinopel dengan cara mendirikan benteng besar dipinggir Bosporus yang berhadapan dengan benteng yang didirikan Bayazid. Benteng Bosporus ini dikenal dengan nama Rumli Haisar (Benteng Rum). Benteng yang didirikan umat Islam pada zaman Muhammad Al-Fatih itu dijadikan sebagai pusat persediaan perang untuk menyerang kota Konstantinopel. Setelah segala sesuatunya dianggap cukup, dilakukan pengepungan selama 9 bulan. Akhirnya kota Konstantinopel jatuh ke tangan umat Islam ( 29 Mei 1453 M) dan Kaisar Bizantium tewas bersama tentara Romawi Timur. Setelah memasuki Konstantinopel terdapat sebuah gereja Aya Sofia yang kemudian dijadikan Masjid bagi umat Islam.

Setelah kota Konstantinopel dapat ditaklukkan, kota itu dijadikan sebagai ibukota dan namanya diganti menjadi Istanbul. Jatuhnya kota Konstantinopel ke tangan umat Islam, berturut-turut pula diikuti oleh penguasaan Negara-negara sekitarnya seperti Servia, Athena, Mora, Bosnia, dan Italia. Setelah pemerintahan Sultan Muhammad, berturut-turut kerajaan Islam dipimpin oleh beberapa Sultan, yaitu:

1) Sultan Bayazid II (1481-1512 M)

2) Sultan Salim I (918-926 H/ 1512-1520 M)

3) Sultan Sulaiman (926-974 H/ 1520-1566 M)

4) Sultan Salim II (974-1171 H/ 1566-1573 M)

5) Sultan Murad III ( 1573-1596 M)

Setelah pemerintahan Sultan Murad III, dilanjutkan oleh 20 orang Sultan Turki Usmani sampai berdirinya Republik Islam Turki. Akan tetapi kekuasaan sultan-sultan tersebut tidak sebesar kerajaan-kerajaan sultan-sultan sebelumnya. Para sultan itu lebih suka bersenang-senang., sehingga melupakan kepentingan perjuangan umat Islam. Akibatnya, dinasti turki Usmani dapat diserang oleh tentara Eropa, seperti Inggris, Perancis, dan Rusia. Sehingga kekuasaan Turki Usmani semakin lemah dan berkurang karena beberapa negri kekuasaannya memisahkan diri,diantaranya adalah :

1) Rumania melepaskan diri dari Turki Usmani pada bulan Maret 1877 M.

2) Inggris diizinkan menduduki Siprus bulan April 1878 M.

3) Bezarabia, Karus, Ardhan, dan Bathum dikuasai Rusia.

4) Katur kemudian menjadi daerah kekuasaan Persia. (Syaikhotin Abdillah: 2016)

Secara keseluruhan raja-raja yang pernah memimpin Dinasti Turki Usmani yaitu sebagai berikut :

NoNama KhalifahTahun Pengangkatan
1Usman I1281 M
2Urkhan1324 M
3Murad I1306 M
4Bayazid I1389 M
Peralihan Kekuasaan1402 M
5Muhammad I1413 M
6Murad II1421 M
7Muhammad II1444 M
8Murad II (menjabat kedua kalinya)1446 M
9Muhammad II (menjabat kedua kalinya)1451 M
10Bayazid II1481 M
11Salim I1512 M
12Sulaiman I1520 M
13Salim II1566 M
14Murad III1574 M
15Muhammad III1594 M
16Ahmad I1603 M
17Musthofa I1617 M
18Usman II1618 M
19Musthofa I (menjabat kedua kalinya)1622 M
20Murad IV1623 M
21Ibrahim1640 M
22Muhammad IV1648 M
23Sulaiman II1678 M
24Ahmad II1691 M
25Musthofa II1695 M
26Ahmad III1703 M
27Mahmud I1730 M
28Usman III1754 M
29Musthofa III1757 M
30Abdul Hamid I1774 M
31Salim III1789 M
32Musthofa IV1807 M
33Mahmud II1808 M
34Abdul Majid I1839 M
35Abdul Aziz1861 M
36Murad V1876 M
37Muhammad Rasyid V1909 M
38Muhammad Wahid al-Din1918 M
39Abdul Majid II (hanya bergelar sebagai khalifah)1924 M

Kesultanan Turki Usmani pada masanya sangat berpengaruh terhadap peradaban manusia di dunia. Bahkan pada masa kejayaannya menjadi salah satu kekaisaran adidaya yang ditakuti oleh kerajaan-kerajaan lainnya.

Posting Komentar untuk "Raja-raja di Kesultanan Turki Utsmaniyah (Ottoman)"