Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Sejarah Singkat Kehidupan Nabi Muhammad S.A.W


Nabi Muhammad saw. adalah Rasul terakhir. Allah mengutusnya untuk menyampaikan penyempurna ajaran. Ia merupakan seorang Rasul yang memiliki keistimewaan dibanding Nabi lainnya. Keistimewaan itu terdapat dalam ajaran Islam yang disampaikannya maupun dalam kesempurnaan pribadinya. Dalam diri Nabi Muhammad saw. terdapat berbagai teladan yang dapat kita tiru. Seluruh kehidupannya penuh dengan teladan. Dengan mempelajari sejarah kehidupan dan misi hidupnya kita akan mendapatkan berbagai pelajaran yang bermanfaat.

A. Kondisi Masyarakat Sebelum Islam Datang


Sebelum Nabi Muhammad saw. lahir, kehidupan penduduk Jazirah Arab sangat berbeda dengan kini. Mereka hidup di tengah gurun pasir yang tandus dan panas. Sumber air hanya terdapat di beberapa mata air atau oase.

Dengan potensi alam yang minim, masyarakat Arab, terutama Mekah dan Madinah, sebagian besar memilih profesi sebagai pedagang.

Perangai masyarakat Arab juga dikenal sangat buruk. Mereka gemar berjudi, pesta minuman keras, perang saudara, mengawini ibu tiri atau adik sendiri, bahkan mengubur anak perempuan hidup-hidup. Namun di sisi lain, mereka mahir dalam kesusastraan.

Adapun kepercayaan penduduk Mekah sebelum Islam datang adalah Watsani (paganisme), atau penyembah berhala. Berhala-berhala itu bahkan di- letakkan di dalam Ka’bah.

Suatu ketika Abrahah, Gubernur Yaman, membangun Qulles (bangunan besar tempat peribadatan Nasrani) yang sangat megah, menyaingi Kakbah sebagai tempat berziarah. Usaha Abrahah sia-sia, karena Qulles nan megah yang ia bangun tidak banyak dikunjungi peziarah. Akhirnya, jalan terakhir ditempuh. Ia bertekad untuk menghancurkan Ka’bah dengan pasukan gajahnya yang didatangkan dari Afrika.

Namun Allah berkehendak lain. Sesampainya pasukan gajah di hadapan Ka’bah, langit mendadak gelap dipenuhi segerombolan burung Ababil yang membawa batu panas membara. Batu itu dijatuhkan kepada pasukan gajah. Seketika itu pula pasukan gajah kocar-kacir. Dalam sekejap, Abrahah dan bala tentaranya mati.

Dengan lindungan Allah, Ka’bah pun tetap utuh. Para penduduk Mekah bersyukur karena selamat dari invasi tentara Abrahah. Mereka kembali ke kota Mekah dengan hati gembira. Untuk mengenang peristiwa itu, mereka bersepakat menamakan tahun itu sebagai Tahun Gajah. Saat itu bertepatan dengan tahun 570 Masehi.

Nah, tahukah kamu bahwa pada tahun tersebut telah lahir seorang bayi yang kelak menjadi utusan Allah untuk terakhir kalinya? Ya, tak ada yang menyangka bahwa justru di tempat yang kacau-balau dan jauh dari kemuliaan moral itu lahirlah Sang Rasul terakhir! Sosok itulah yang kelak akan menyeru umatnya untuk kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa.  Putra  Abdullah  itulah yang akan mengajak masyarakat Arab untuk meninggalkan segala kemungkaran.

B. Kehidupan Nabi Muhammad saw.


1. Kelahiran dan Masa Kanak-kanak

Nabi Muhammad saw. lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal Tahun Gajah atau Senin, 20 April 570 M. Ayahnya, Abdullah bin Abdul Muttalib, telah meninggal di Madinah saat berdagang, sehingga Muhammad lahir dalam keadaan yatim. Muhammad berasal dari keturunan terhormat Suku Quraisy dengan garis Kabilah Bani Hasyim. Kakeknya, Abdul Muttalib, adalah pemimpin Suku Quraisy yang sangat disegani.

Ketika menginjak usia 3 tahun, Muhammad mengalami peristiwa aneh. Ketika itu ia dan teman sebayanya sedang bermain di halaman belakang rumah Halimah. Tiba-tiba Muhammad dibawa oleh dua orang berpakaian serba putih, lalu dadanya dibelah. Itulah peristiwa pembelahan dada oleh dua malaikat untuk membersihkan jiwa Muhammad dari segala macam kotoran hati, seperti takabur, riya’, dengki, dan sebagainya.

Setelah berusia 5 tahun, Muhammad dikembalikan kepada keluarganya dalam asuhan ibu dan kakeknya. Aminah berencana untuk berziarah ke makam suaminya, Abdullah, di Madinah. Ia juga bermaksud sekaligus mem- perkenalkan Muhammad kepada kerabat Abdul Muttalib dari keluarga Najjar. Mereka berangkat ditemani Ummu Aiman, budak ayahnya saat masih hidup. Sebulan lamanya berada di Madinah, mereka kemudian kembali ke Mekah. Namun ketika perjalanan baru menempuh jarak 37 km, Aminah jatuh sakit hingga akhirnya meninggal. Aminah dimakamkan di tempat tersebut, yakni   di Desa Abwa’.

Setibanya di Mekah, Muhammad disambut sang kakek dengan perasaan duka cita. Keadaan Muhammad yang telah yatim-piatu membuat rasa sayang Abdul Muttalib kepadanya semakin besar. Ketika usianya mencapai delapan tahun, sang kakek tercinta, Abdul Muttalib, meninggal dalam usia 80 tahun.

Muhammad lalu diasuh Abu Talib, salah satu di antara paman-pamannya yang mempunyai hati paling lembut dan halus. Abu Talib juga termasuk tokoh terhormat di mata kaum Quraisy, walau hidup sangat sederhana dan jauh dari kemewahan. Tak kalah dari sang ayah (Abdul Muttalib), Abu Talib juga sangat menyayangi Muhammad.

2. Masa Remaja

Saat berusia dua belas tahun, Muhammad menemani Abu Talib melakukan perjalanan dagang ke Syam. Ketika sampai di Busra, rombongan tersebut bertemu seorang rahib yang mengetahui tanda-tanda kenabian Muhammad. Rahib itu menasihati Abu Talib agar merahasiakan hal ini dari orang-orang Yahudi. Menurutnya, sebaiknya Muhammad tidak memasuki Syam terlalu jauh sebab dapat mengancam keselamatannya dari perbuatan jahat orang- orang Yahudi. Abu Talib pun segera mengajak rombongannya untuk menjauh dari tempat itu.

Selain berdagang, Muhammad juga bekerja giat untuk memenuhi kebu- tuhan hidup sebagai penggembala kambing. Gembala kambing mungkin dipandang sebagai pekerjaan rendah dan hina. Namun pernahkah kamu mengira bahwa pekerjaan itu dapat mendatangkan pelajaran berharga? Dengan menggembala kambing, Muhammad kecil dapat melatih kesabaran, tumbuh rasa sayang terhadap seluruh makhluk hidup dan lingkungan, dan tabah. Nabi Muhammad saw. juga merupakan tipe orang yang gemar merenungkan rahasia penciptaan alam. Ia pun sering memikirkan kondisi masyarakat yang kacau balau ketika itu.

Pada suatu ketika seorang saudagar terkaya di Mekah, Khadijah, sedang mencari pegawai untuk menjalankan perniagaannya. Ia adalah seorang janda berusia 40 tahun. Kabar tersebut terdengar oleh Abu Talib, dan me- nyampaikannya kepada Muhammad. Beliau pun bersedia menjadi pegawai Khadijah. Karena sifat beliau yang lembut, halus tutur katanya, baik budi, dan pekerja keras, Khadijah bersedia mengupah dua kali lipat dari biasanya, yaitu dengan dua ekor anak onta.

Berangkatlah rombongan kafilah pimpinan Muhammad menuju Syam untuk menjalankan usaha Khadijah. Dalam perjalanan tersebut Muhammad menjumpai berbagai kepercayaan dan ritual peribadatan di Syam seperti Nasrani dan Yahudi. Bahkan Muhammad sering berdebat dengan para rahib dan pendeta Nasrani, dan rahib Nestorian.

Berbekal kejujuran dan kemampuannya dalam berdagang, Muhammad mampu menghasilkan keuntungan besar. Khadijah benar-benar salut terhadap kepribadian dan kemampuan Muhammad. Maka, diutuslah saudaranya yang bernama Nufaisa binti Munya, untuk menjajagi dan menanyakan kesanggupan Muhammad menikah dengannya. Muhammad pun bersedia menikah dengan Khadijah.

Setelah pernikahan itu, usaha dagang yang mereka jalankan bertambah maju. Pasangan suami istri itu hidup dengan bahagia. Allah menganugerahkan kepada mereka enam orang anak, namun kedua putranya al-Qasim dan Abdullah at-Tahir meninggal dunia lebih dini. Tinggallah empat orang putri, yaitu Zainab, Ruqayya, Ummu Kulshum, dan Fatimah.

Setelah hidup berkecukupan bersama Khadijah, Muhammad tetap hidup sederhana sehingga masyarakat Mekah pun menaruh hormat kepada beliau. Selain hidup sederhana, Muhammad juga dikenal sebagai pribadi yang santun, jujur, dan bijak.

3. Masa Kerasulan

Sifat bijaksana dalam diri Muhammad telah diakui masyarakat Mekah setelah melihat sosok Muhammad yang mampu menyelesaikan perselisihan antarkabilah. Suatu ketika, setelah banjir besar melanda sebagian kota Mekah, dinding-dinding Kakbah pun retak. Seluruh penghuni kota kemudian bergotong-royong memperbaikinya, termasuk Muhammad.

Ketika bangunan Kakbah mencapai setinggi orang dewasa, Hajar Aswad (batu hitam) pun akan kembali diletakkan ke tempat semula di sudut timur. Persoalan pun muncul: siapa yang seharusnya meletakkan kembali batu suci itu? Merupakan suatu kehormatan di kalangan Quraisy bagi kabilah yang mendapat kesempatan tersebut. Semua Kabilah berebut ingin mengangkat dan memasang kembali Hajar Aswad. Hampir saja pertumpahan darah terjadi akibat masalah itu.

Orang yang tertua dan paling disegani ketika itu, Abu Umayya bin al- Mughira dari Bani Makhzum, akhirnya mengutarakan idenya terkait per- masalahan itu. Ia berkata: “Serahkan keputusan kamu ini di tangan orang yang pertama memasuki pintu Safa.” Ternyata, Muhammad yang pertama memasuki pintu Safa. Akhirnya ia ditunjuk untuk merumuskan solusi terbaik.

Muhammad pun berkata, “Ambilkan sehelai kain”. Setelah kain diambil dan dibentangkan, Muhammad lalu meletakkan Hajar Aswad di atas hamparan kain lalu beliau berkata lagi, “Silakan setiap ketua kabilah memegang ujung kain ini.” Secara bersama-sama, mereka lalu memegang ujung helai kain untuk membawa Hajar Aswad menuju tempatnya semula. Setelah sampai di tempat tersebut, Muhammad lalu mengambil batu itu dan meletakkannya di tempat semula. Dengan pendapatnya yang bijaksana, perselisihan dapat diakhiri. Setelah peristiwa itu Muhammad diberi gelar al-Amin, artinya ‘orang yang dapat dipercaya.’

Setelah Kakbah selesai dibangun setinggi 11 meter dan diberi kain penutup, berhala-berhala Quraisy diletakkan di dalamnya beserta barang-barang ber- harga lainnya. Peribadatan kaum Quraisy masih sama dengan sebelumnya, yaitu menyembah berhala. Sementara itu, umat Nasrani dan Yahudi terus mencerca perilaku Quraisy tersebut.

Kondisi ini membuat Muhammad semakin berpikir keras, merenung, dan menyendiri untuk mencari petunjuk Tuhan. Beliau mencari cara mengentaskan masyarakat yang telah jatuh ke dalam lembah kesesatan. Setiap Ramadan, beliau berkunjung ke gua Hira’ untuk berkontemplasi. Pada malam ketujuh belas Ramadan tahun 610 M, Allah SWT. mengutus Malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu pertama dengan mendekap keras seraya berkata:

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١  خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٢  ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٣  ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ ٤ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ  

Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. al-‘Alaq: 1-5)

Pengalaman pertama kali menerima wahyu itu dialami saat beliau berusia empat puluh tahun. Peristiwa itu membuat seluruh badan Nabi Muhamad saw. gemetar. Beliau bergegas pulang dengan badan gemetaran. Sesampainya di rumah, beliau meminta Khadijah menyelimutinya dan diceritakannya kejadian yang sangat dahsyat itu. Setelah beliau tertidur, turunlah wahyu kedua:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ ١  قُمۡ فَأَنذِرۡ ٢  وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ ٣ 

Artinya: Wahai orang yang berkemul (berselimut)! bangunlah lalu berilah peringatan! dan agungkanlah Tuhanmu! (QS. al-Muddassir: 1-3)

a. Memulai dakwah

Setelah “resmi” menjadi seorang Nabi, dakwah pun dimulai. Pertama- tama, beliau mengajak istri, anak-anak, keluarga dekat, dan teman-teman dekat untuk meninggalkan berhala dan hanya menyembah Allah SWT.

Orang-orang terdekat yang pertama kali masuk Islam ialah Khadijah, Abu Bakar, Ali bin Abi Talib, dan Zaid bin Haritsah. Merekalah yang kemudian dikenal sebagai as-Sābiqūna al-Awalūn, yaitu ‘orang-orang yang pertama memeluk Islam’.

Nabi Muhammad saw. lalu mulai berdakwah secara terang-terangan sekitar tahun 613 M. Dakwah terang-terangan memicu reaksi keras dari masyarakat Mekah. Sebab, di samping masih mengakarnya budaya nenek moyang, saat itu pengikut Nabi belum seberapa. Namun sebagai utusan Allah SWT., beliau tak gentar menghadapi ancaman dan tantangan, meski nyawa menjadi taruhan.

b. 'Amul Huzni dan Isra' Mi'raj

Di tengah situasi dakwah yang penuh dengan ancaman, Nabi Muhammad saw. memasuki masa-masa kesedihan, atau biasa disebut sebagai ‘Amul Huzni. Dalam waktu satu tahun dua orang anggota keluarga beliau meninggal dunia, yakni sang istri tercinta, Khadijah, dan Abu Talib, paman sekaligus pelindungnya. Bahkan Abu Talib meninggal sebelum mengucapkan syahadat.

Pada tahun 621 M, Allah mengutus Malaikat Jibril menjemput Nabi Muhammadsaw. untuk melakukan “perjalanan yang luar biasa”. Perjalanan yang dimaksud tak lain adalah Isrā’ dan Mi’raj. Peristiwa Mi’raj merupakan awal diwajibkannya salat lima waktu bagi umat muslim.

Sejak peristiwa itu, dakwah Nabi Muhammad saw. pun mulai ber- kembang. Beliau mulai berdakwah kepada orang-orang Arab yang sedang melaksanakan haji.

c. Hijrah ke Madinah

Pada bulan Zulhijjah 621 M, dua belas pemuda Yasrib menemui Nabi Muhammad saw. di bukit ‘Aqaba. Mereka menyatakan ikrar untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak- anak, tidak mengumpat dan memfitnah, dan bersedia berbuat kebaikan.

Untuk memberikan pemahaman kepada mereka tentang Islam, Nabi Muhammad saw. pun mengutus Mus’ab bin ‘Umair untuk mengajarkan Islam di Yasrib. Pada bulan Zulhijjah 622 M, 75 jamaah haji Yasrib datang kembali menemui Nabi Muhammad saw. Masih di bukit ‘Aqaba juga, dilakukan ikrar setia kepada Allah dan Rasul-Nya dan sekaligus meminta Nabi Muhammad saw. untuk segera datang ke Yasrib.

Pada tahun 1 Hijriah Nabi Muhammad saw. beserta umat Islam dari Mekah melakukan hijrah ke Madinah. Perintah untuk melakukan hijrah tersebut merupakan petunjuk Allah untuk menyelamatkan agama dan umat Islam dari tekanan kaum kafir Quraisy. Setiba di Madinah, Nabi kemudian menyatukan umat Islam yang datang dari Mekah (kaum Muhājirīn) dengan umat Islam di Madinah (kaum Ansār) dalam ikatan persaudaraan Islam. Setelah berdakwah di Mekah selama 12 tahun (610-622 M), hijrah ke Madinah merupakan titik awal kejayaan Islam.

Setelah peristiwa haji wada’ (haji perpisahan), wahyu terakhir turun kepada Nabi Muhammad saw. berupa penegasan bahwa Allah telah me- nyempurnakan Islam sebagai agama seluruh umat manusia.

حُرِّمَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡمَيۡتَةُ وَٱلدَّمُ وَلَحۡمُ ٱلۡخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيۡرِ ٱللَّهِ بِهِۦ وَٱلۡمُنۡخَنِقَةُ وَٱلۡمَوۡقُوذَةُ وَٱلۡمُتَرَدِّيَةُ وَٱلنَّطِيحَةُ وَمَآ أَكَلَ ٱلسَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيۡتُمۡ وَمَا ذُبِحَ عَلَى ٱلنُّصُبِ وَأَن تَسۡتَقۡسِمُواْ بِٱلۡأَزۡلَٰمِۚ ذَٰلِكُمۡ فِسۡقٌۗ ٱلۡيَوۡمَ يَئِسَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمۡ فَلَا تَخۡشَوۡهُمۡ وَٱخۡشَوۡنِۚ ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ فَمَنِ ٱضۡطُرَّ فِي مَخۡمَصَةٍ غَيۡرَ مُتَجَانِفٖ لِّإِثۡمٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. al-Ma’idah : 3)

Tak lama setelah ayat terakhir turun, Nabi Muhammad saw. wafat dalam usia 63 tahun atau pada 6 Juni 632 M.

Posting Komentar untuk "Sejarah Singkat Kehidupan Nabi Muhammad S.A.W"