Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Tujuan Pendidikan dalam Pandangan Imam al-Ghazali

Tujuan Pendidikan dalam Pandangan Imam al-Ghazali

Dalam dunia pendidikan Islam siapa yang tidak mengenal Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i atau yang paling terkenal dengan nama Imam Al-Ghazali. Semua umat Islam pasti mengetahui hujjatul Islam ini yang memiliki ingatan yang sangat kuat dan bijak dalam behujjah. Al-Ghazali sangat mencintai ilmu pengetahuan. Beliau rela meninggalkan kenikmatan dunia demi bermusafir dan mengembara mencari ilmu pengetahuan. Sehingga banyak juga pandangan-pandangan beliau tentang pendidikan.

Al-Ghazali mengemukakan, tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan untuk mencari kedudukan yang menghasilkan uang. Karena jika tujuan pendidikan diarahkan bukan pada mendekatkan diri kepada Allah SWT, akan dapat menimbulkan kedengkian, kebencian, dan permusuhan.  (Abuddin Nata : 2005:212 ).

Dalam kitab Ihya’ ‘Ulum al-Addin dijelaskan bahwa:

أن ثمرة العلم القرب من رب العالمين

Hasil dari ilmu sesungguhnya ialah mendekatkan diri kepada Allah, Tuhan semesta alam.

إفادة العلم وتهذ يب النفوس الناس عن الأخلاق المذمومة المهلكة وإرشادهم إلى الأخلاق المحمودة المسعدة وهو المرد بالتعليم

Memfaidahkan ilmu dan membersihkan jiwa manusia dari perangai tercela dan lalu menunjukkan mereka kepada perangai (akhlak) yang terpuji dan menjadikan bahagia, itulah yang dimaksud pengajaran.

والمعلم مشتغل بتكميله وتجليته وتطهيره وسياقته إلى القرب من الله عزوجل

Seorang pendidik sibuk memperbaiki, membersihkan, menyempurnakan dan mengarahkan hati agar selalu dekat kepada Allah swt.

Seorang guru dan pelajar memang hendaknya mendahulukan kebersihan jiwa dari akhlak yang rendah. Maka, selama bathin tidak dibersihkan dari hal-hal yang keji, ia pun tidak akan menerima ilmu yang bermanfaat dalam agama dan tidak diterangi dengan cahaya ilmu.

Jika kita perhatikan kutipan di atas, kata “hasil” menunjukkan proses, kata “mendekatkan diri kepada Allah” menunjukkan tujuan, dan kata “ilmu” menunjukkan alat. Sedangkan pada kutipan kedua merupakan penjelasan mengenai alat, yakni disampaikan dalam bentuk pengajaran. Oleh karena itu, orang dapat mendekatkan diri kepada Allah setelah memperoleh ilmu pengetahuan, sedangkan pengetahuan itu sendiri tidak akan diperoleh manusia kecuali melalui pengajaran. Sedangakan inti dari pengajaran adalah pembinaan mental dan pembersihan jiwa. Dengan harapan akan membuahkan perbaikan moral dan taqwa bagi diri individu atau kesalehan individual yang akhirnya akan menyebar di tengah-tengah manusia atau terbentuknya kesalehan sosial. Sehingga pendidikan dalam prosesnya haruslah mengarah kepada usaha mendekatkan diri kepada Allah dan kesempurnaan insani, mengarahkan manusia untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu bahagia dunia dan akhirat. Hal ini sejalan dengan tujuan hidup manusia menurut Al-Ghazali, yaitu:

أن مقاصد الخلق مجموعة في الدين والدنيا ولانظام للدين إلا بنظام الدنيا فإن الدنيا مزرعة للآخرة وهي الآلة الموصلة إلى الله عز وجل لمن التخذها آلة ومنزلا لا لمن يتخذها مستقرا ووطنا

Segala tujuan manusia itu terkumpul dalam agama dan dunia. Dan agama tidak terorganisir selain dengan terorganisasinya dunia. Dunia adalah tempat bercocok tanam bagi akhirat. Yaitu alat yang menyampaikan kepada Allah ‘Azza wa Jalla bagi orang yang mengambilnya (dunia) sebagai alat dan persinggahan, bukan bagi orang yang menjadikannya sebagai tempat menetap dan tanah air.

Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa Al-Ghazali secara eksplisit menempatkan dua hal penting sebagai orientasi pendidikan yaitu:

  1. Mencapai kesempurnaan manusia untuk secara kualitatif mendekatkan diri kepada Allah swt.
  2. Mencapai kesempurnaan manusia untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Kebahagiaan dunia akhirat merupakan sesuatu yang paling esensi bagi manusia. Kebahagiaan dunia dan akhirat memiliki nilai universal, abadi dan lebih hakiki. Sehingga pada akhirnya orientasi kedua akan sinergis bahkan menyatu dengan orientasi yang pertama.  Dengan demikian, Al-Ghazali dalam merumuskan tujuan pendidikan sesuai dengan orientasi tujuan hidup manusia secara makro, yaitu kebahagian hidup di dunia dan di akhirat.

Al-Ghazali juga menjelaskan, bahwa manusia untuk beramal harus melalui beberapa tahapan, yang salah satunya yaitu; pengetahuan (ilmu). Memang kenyataannya demikian, manusia untuk melaksanakan tugasnya sebagai khalifah mutlak membutuhkan pengetahuan kemudian dinternalisasikan dalam dirinya utntuk selanjutnya diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga sangat relevan jika Al-Ghazali menegaskan bahwa:

ولن يتوصل إليها إلا بالعلم والعمل ولا يتوصل إلى العمل إلا بالعلم بكيفية العمل فأصل, السعادة فى الدنيا والأخرة وهو العلم

Manusia tidak akan mencapai tujuan hidupnya kecuali melalui ilmu dan amal. Dan tidak akan beramal kecuali dengan mengetahui cara pelaksanaan amal, dengan demikian pangkal kebahagian di dunia dan akhirat, sebagai tujuan hidup adalah ilmu.

Oleh karena itu, tujuan pendidikan jangka panjang Al-Ghazali adalah mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga pendidikan dalam prosesnya harus mengarahkan manusia menuju pengenalan dan kemudian pendekatan diri kepada Tuhan pencipta alam. Sedangkan tujuan pendidikan jangka pendek Al-Ghazali adalah terwujudnya kemampuan manusia melaksanakan tugas-tugas keduniaan dengan baik sebagai bekal menuju kehidupan yang kekal di akhirat. Bekal tersebut dapat diperoleh dengan mengembangkan potensi diri melalui ilmu pengetahuan, baik yang fardu 'ain maupun fardu kifayah. Dengan kemampuan yang diperoleh dari ilmu pengetahuan tersebut, kita akan melaksanakan tugas keduniaan secara professional.

Demikianlah pandangan imam al-Ghazali tentang tujuan pendidikan yang sebenarnya, yaitu untuk mengelola dunia sebagaimana tugas manusia sebagai khalifah di atas muka bumi, dan mendekatkan diri kepada Allah swt. Semoga bermanfaat.

Posting Komentar untuk "Tujuan Pendidikan dalam Pandangan Imam al-Ghazali"